Banyak masyarakat yang bertanya, apakah epilepsi menular? Pertanyaan ini muncul karena epilepsi kerap disalahpahami sebagai penyakit yang bisa berpindah melalui kontak fisik atau interaksi sehari-hari. Padahal, anggapan tersebut tidak benar secara medis.
Epilepsi merupakan gangguan neurologis yang terjadi akibat aktivitas listrik abnormal di otak, bukan karena infeksi virus atau bakteri. Kurangnya pemahaman ini sering kali menimbulkan stigma terhadap penderita, mulai dari dijauhi hingga dikucilkan. Oleh karena itu, penting untuk memahami fakta medis mengenai epilepsi agar tidak terjadi kesalahpahaman yang merugikan.
Memahami Epilepsi sebagai Gangguan Neurologis, Bukan Penyakit Menular
Apakah epilepsi menular? Jawabannya adalah tidak.
Epilepsi adalah kondisi neurologis kronis yang ditandai dengan kejang berulang akibat gangguan aktivitas listrik di otak. Kondisi ini tidak disebabkan oleh virus, bakteri, atau patogen lainnya, sehingga tidak bisa ditularkan melalui:
- kontak fisik (bersentuhan, berjabat tangan)
- udara (batuk atau bersin)
- cairan tubuh
Pemahaman ini menjadi dasar penting untuk meluruskan berbagai mitos yang berkembang di masyarakat. Dengan kata lain, berada di dekat penderita epilepsi tidak akan membuat seseorang tertular kondisi tersebut.
Faktor Penyebab Epilepsi yang Sebenarnya Terjadi di Otak
Untuk kembali menegaskan bahwa jawaban dari apakah epilepsi menular adalah tidak, penting memahami bahwa epilepsi berasal dari gangguan fungsi otak, bukan dari paparan luar seperti penyakit menular yang bisa berpindah antarindividu.
Berikut penjelasan lebih mendalam mengenai faktor penyebabnya:
1. Faktor Genetik (Genetic Predisposition)
Pada beberapa kasus, epilepsi memiliki keterkaitan dengan faktor genetik. Artinya, terdapat mutasi atau variasi gen tertentu yang memengaruhi cara sel saraf (neuron) mengirimkan sinyal listrik di otak. Kondisi ini tidak selalu berarti epilepsi pasti diturunkan langsung dari orang tua, tetapi risiko bisa lebih tinggi pada individu dengan riwayat keluarga epilepsi.
2. Cedera Kepala atau Trauma Otak (Traumatic Brain Injury)
Cedera pada kepala, baik akibat kecelakaan lalu lintas, jatuh, maupun benturan keras, dapat merusak jaringan otak. Epilepsi akibat trauma tidak selalu muncul langsung setelah cedera. Dalam banyak kasus, kejang baru terjadi beberapa bulan hingga bertahun-tahun kemudian, tergantung pada tingkat kerusakan otak yang dialami.
3. Stroke dan Gangguan Pembuluh Darah Otak
Stroke merupakan salah satu penyebab epilepsi yang paling umum, terutama pada orang dewasa dan lansia. Ketika aliran darah ke bagian otak terganggu (baik karena sumbatan maupun perdarahan), sel-sel otak bisa rusak atau mati. Kerusakan ini mengubah pola aktivitas listrik di otak, sehingga memicu kejang.
4. Infeksi Otak (Meningitis, Ensefalitis, dll.)
Infeksi pada otak seperti meningitis (radang selaput otak) atau ensefalitis (radang jaringan otak) dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan pada neuron. Hal penting yang perlu dipahami adalah infeksi seperti meningitis memang bisa menular. Namun, epilepsi yang muncul tidak menular. Setelah infeksi sembuh, sebagian pasien dapat mengalami perubahan permanen pada jaringan otak yang kemudian memicu epilepsi.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Seseorang Mengalami Kejang Epilepsi?
Mengetahui cara penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah cedera saat kejang terjadi. Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan:
- Pastikan lingkungan sekitar aman dari benda tajam atau keras yang dapat melukai pasien selama kejang berlangsung.
- Posisikan tubuh pasien dalam posisi miring (recovery position) untuk mencegah risiko tersedak air liur atau muntahan.
- Longgarkan pakaian di sekitar leher agar pernapasan tidak terganggu.
- Letakkan sesuatu yang lembut (seperti jaket atau bantal) di bawah kepala untuk mencegah cedera kepala.
- Catat durasi kejang sejak awal hingga berhenti sebagai informasi penting bagi tenaga medis.
- Tetap berada di dekat pasien sampai kejang berhenti dan pasien mulai sadar kembali secara bertahap.
- Setelah kejang berhenti, bantu pasien untuk beristirahat dan pulih dalam posisi yang nyaman.
BACA JUGA: 5 Mitos dan Fakta Epilepsi yang Perlu Dipahami
Kapan Epilepsi Harus Ditangani oleh Dokter?
Epilepsi perlu segera mendapatkan penanganan medis apabila seseorang mengalami kejang berulang tanpa penyebab yang jelas, kehilangan kesadaran secara tiba-tiba, atau menunjukkan gerakan tubuh yang tidak terkendali. Kondisi ini bisa menjadi tanda adanya gangguan serius pada aktivitas listrik otak yang memerlukan diagnosis lebih lanjut oleh dokter spesialis saraf (neurologi). Pemeriksaan seperti EEG atau MRI biasanya dibutuhkan untuk memastikan penyebab dan jenis epilepsi yang dialami.
Penanganan dini sangat penting untuk mencegah risiko komplikasi, seperti cedera saat kejang atau penurunan kualitas hidup. Dengan terapi yang tepat, baik melalui obat antiepilepsi maupun pendekatan medis lainnya, frekuensi kejang dapat dikontrol sehingga penderita tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara optimal.
Artikel ditulis oleh dr. Daniel T. Suryadisastra, Sp.N, FIN, RPSGT, AIFO-K (Dokter Spesialis Neurologi / Saraf RS EMC Alam Sutera).