Masih banyak pasangan yang percaya bahwa memelihara kucing atau terkena bulunya dapat menyebabkan wanita sulit hamil. Mitos ini bahkan membuat sebagian orang memilih menjauhkan hewan peliharaannya saat sedang menjalani program hamil. Namun, benarkah anggapan tersebut?
Faktanya, belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa bulu kucing dapat menyebabkan infertilitas atau sulit hamil. Kesuburan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi organ reproduksi, keseimbangan hormon, usia, kualitas sel telur, hingga kualitas sperma pasangan. Lalu, mengapa kucing sering dikaitkan dengan kehamilan?
Mitos: Bulu Kucing Menyebabkan Sulit Hamil
Anggapan bahwa bulu kucing dapat menyebabkan kemandulan merupakan mitos. Bulu kucing tidak mengandung zat yang dapat merusak rahim, indung telur, maupun menghambat proses pembuahan. Selama kesehatan reproduksi wanita dan pria dalam kondisi baik, memelihara kucing tidak akan mengurangi peluang untuk memperoleh kehamilan.
Karena itu, apabila kehamilan belum juga terjadi, penyebabnya tidak boleh langsung dikaitkan dengan keberadaan kucing peliharaan.
Fakta: Risiko Sebenarnya adalah Infeksi Toksoplasmosis
Kucing sering dikaitkan dengan kehamilan karena adanya risiko toksoplasmosis, yaitu infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Namun, penting dipahami bahwa tidak semua kucing membawa parasit ini. Risiko lebih tinggi ditemukan pada kucing yang sering berburu atau mengonsumsi daging mentah.
Penularan toksoplasmosis juga bukan berasal dari bulu kucing, melainkan melalui kontak dengan kotoran kucing yang terinfeksi, konsumsi daging yang kurang matang, sayuran atau buah yang tidak dicuci bersih, maupun tanah yang terkontaminasi.
Hingga saat ini, belum terdapat bukti bahwa toksoplasmosis merupakan penyebab langsung infertilitas. Namun, apabila infeksi terjadi saat kehamilan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, atau gangguan pada perkembangan janin. Oleh karena itu, wanita yang sedang merencanakan kehamilan maupun sudah hamil perlu menerapkan pola hidup bersih untuk mengurangi risiko infeksi.
Apa Penyebab Sebenarnya Sulit Hamil?
Kesulitan memperoleh kehamilan lebih sering disebabkan oleh gangguan pada sistem reproduksi dibandingkan karena memelihara kucing. Penyebab yang umum meliputi gangguan ovulasi, sindrom ovarium polikistik (PCOS), endometriosis, sumbatan saluran tuba, gangguan hormon, hingga penurunan kualitas sperma pada pasangan pria.
Bagaimana Mencegah Risiko Toksoplasmosis?
Pemilik kucing tidak perlu panik atau langsung memisahkan hewan peliharaannya. Risiko infeksi dapat diminimalkan dengan mencuci tangan setelah memegang kucing, menggunakan sarung tangan saat membersihkan kotak pasir, membersihkan kandang setiap hari, tidak memberikan daging mentah pada kucing, mengonsumsi daging yang dimasak hingga matang, serta mencuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi.
BACA JUGA: Pecinta Kucing Wajib Tahu! Fakta Toksoplasma, Kesuburan, dan Kehamilan yang Sering Disalahpahami
Kapan Perlu Berkonsultasi ke Dokter Obgyn?
Jika Anda sedang menjalani program hamil atau mengalami kesulitan memperoleh kehamilan, konsultasikan kondisi tersebut ke dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn). Dokter dapat melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi, seperti evaluasi ovulasi, USG transvaginal, pemeriksaan hormon, hingga pemeriksaan saluran tuba bila diperlukan. Pemeriksaan pada pasangan pria juga sering kali diperlukan untuk mengetahui kualitas sperma.
Kesimpulan
Bulu kucing tidak menyebabkan sulit hamil. Mitos tersebut tidak didukung oleh bukti ilmiah. Yang perlu diwaspadai adalah infeksi toksoplasmosis, yang umumnya ditularkan melalui kotoran kucing yang terinfeksi, makanan kurang matang, atau bahan makanan yang terkontaminasi, bukan melalui bulu kucing.
Jangan biarkan mitos menghambat program kehamilan Anda. Jika kehamilan belum kunjung terjadi atau Anda memiliki kekhawatiran mengenai kesehatan reproduksi, segera lakukan pemeriksaan ke dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn). Evaluasi sejak dini dapat membantu menemukan penyebab sulit hamil dan menentukan penanganan yang tepat untuk meningkatkan peluang mendapatkan kehamilan yang sehat.
Artikel ditulis oleh dr. Lisa Puspadewi Susanto, Sp.OG, FICS (Dokter Spesialis Kebidanan Kandungan RS EMC Alam Sutera).