"Pagi-pagi bersin terus, hidung meler, lalu saat malam hari justru muncul batuk dan dada terasa sesak."
Keluhan seperti ini sering membuat seseorang bingung. Apakah hanya alergi biasa, atau sebenarnya asma? Meski sama-sama dipicu oleh alergi, asma dan rhinitis alergi adalah dua penyakit yang berbeda. Keduanya memang dapat terjadi bersamaan, tetapi memerlukan penanganan yang tidak selalu sama.
Apa Itu Asma?
Asma adalah penyakit kronis yang menyebabkan peradangan pada saluran napas sehingga saluran napas menjadi lebih sensitif dan mudah menyempit ketika terpapar pencetus tertentu, seperti debu, asap rokok, udara dingin, infeksi virus, olahraga, atau alergen. Penyempitan ini menyebabkan aliran udara terganggu sehingga penderita mengalami kesulitan bernapas.
Gejala asma yang umum meliputi:
- Sesak napas yang hilang timbul.
- Napas berbunyi mengi (wheezing).
- Batuk berulang, terutama pada malam hari atau menjelang pagi.
- Dada terasa berat atau tertekan.
Gejala dapat muncul sesekali, tetapi pada sebagian orang juga dapat kambuh berulang apabila pencetus tidak dikendalikan.
Apa Itu Rhinitis Alergi?
Rhinitis alergi merupakan peradangan pada lapisan hidung akibat reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap alergen, seperti tungau debu rumah, serbuk sari, bulu hewan, atau jamur. Saat terpapar alergen, tubuh melepaskan histamin dan berbagai mediator inflamasi yang menimbulkan keluhan pada hidung dan mata.
Gejala yang sering muncul meliputi:
- Bersin berulang, terutama pada pagi hari.
- Hidung gatal.
- Hidung berair atau tersumbat.
- Mata gatal, merah, atau berair.
- Tenggorokan terasa gatal akibat lendir yang mengalir ke belakang hidung (postnasal drip).
Berbeda dengan asma, rhinitis alergi umumnya tidak menyebabkan penyempitan saluran napas, sehingga sesak napas bukan merupakan gejala utamanya.
Apa Perbedaan Asma dan Rhinitis Alergi?
Perbedaan utama terletak pada lokasi peradangan.
Asma menyerang saluran napas bagian bawah (bronkus dan paru-paru) sehingga keluhan utamanya berupa sesak napas, mengi, batuk, dan dada terasa berat. Sebaliknya, rhinitis alergi terjadi pada saluran napas bagian atas (rongga hidung) sehingga lebih sering menyebabkan bersin, hidung tersumbat, hidung berair, dan rasa gatal pada hidung maupun mata.
Meskipun berbeda, kedua penyakit ini memiliki hubungan yang sangat erat. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita asma juga mengalami rhinitis alergi, sehingga keduanya dikenal sebagai konsep "one airway, one disease", yaitu peradangan pada saluran napas atas dan bawah yang saling berkaitan.
Oleh karena itu, ketika seseorang didiagnosis asma, dokter juga akan mengevaluasi adanya rhinitis alergi, begitu pula sebaliknya.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Segera berkonsultasi apabila mengalami:
- Sesak napas berulang.
- Napas berbunyi mengi atau bengek.
- Batuk yang sering muncul pada malam hari.
- Bersin dan hidung tersumbat yang berlangsung terus-menerus.
- Keluhan alergi yang tidak membaik meskipun sudah menghindari pencetus.
- Gejala yang semakin sering kambuh atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dokter dapat melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk pemeriksaan fungsi paru (spirometri) untuk membantu menegakkan diagnosis asma, serta pemeriksaan alergi bila diperlukan agar terapi yang diberikan sesuai dengan penyebab keluhan.
BACA JUGA: Penanganan Pertama Serangan Asma: Langkah Cepat, Tepat, dan Aman untuk Mencegah Kondisi Darurat
Jangan Abaikan Gejala Alergi dan Gangguan Pernapasan
Asma maupun rhinitis alergi sama-sama dapat menurunkan kualitas hidup apabila tidak ditangani dengan baik. Mengenali perbedaan keduanya sejak dini akan membantu mendapatkan diagnosis yang tepat, mengurangi frekuensi kekambuhan, dan mencegah komplikasi di kemudian hari.
Apabila Anda atau anggota keluarga sering mengalami sesak napas, batuk berulang, mengi, atau keluhan alergi pada hidung yang tidak kunjung membaik, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter spesialis paru. Penanganan yang tepat dapat membantu mengendalikan gejala sehingga aktivitas sehari-hari tetap berjalan dengan nyaman.
Artikel ditulis oleh dr. Hezza Bigitha, Sp.P (Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan RS EMC Alam Sutera).